
kisah pencari ikan
cerita ini aku salin dari esqnews.com, yang menceritakan beberapa sikap manusia menghadapi tujuan hidup.
maksudnya semua orang ingin kaya kan? semua orang ingin sukses kan ?? namun dengan beragam cara dan upaya, kisah berikut ini sebagai cermin bagi kita dalam menyikapi beberapa tantangan hidup.
semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari kisah berikut ini.
Kisah Enam Pencari Ikan
Di sebuah desa nan asri hiduplah enam pemuda tampan, karena usianya di nilai sudah cukup, maka orang tua mereka menyuruh agar mereka bisa mencari ikan sendiri untuk makan. Keenam pemuda ini bernama Stupid, Doubt, Perfect, Lucky, Smart dan yang terakhir Wise. Oleh Orang tua mereka, mereka hanya di beri bekal sebuah buku panduan memancing, kail dan jala.
Lain ladang Lain belalang, lain Orang lain pula sikap yang mereka ambil.
Pemuda pertama yang tak lain adalah si Stupid, begitu dia mendapat perintah mencari Ikan, dia hebohnya bukan main, kemana-mana dia cerita ke Orang Orang yang dia temui kalau dia akan mencari ikan, namun karena senangnya ingin memancing, si Pandir ini lupa menyiapkan diri untuk memancing, hingga iapun tetap pada kehebohannya yakni INGIN MEMANCING
Pemuda kedua adalah Doubt, sikap pemuda ini terlalu banyak pertimbangan, dia di penuhi keraguan, dalam hatinya antara iya dan tidak. Bagaimana ya, kalau sewaktu aku memancing, aku terjebur ke sungai??? bagaimana ya kalau seandainya, aku gak dapat ikan??? Bagaimana ya… dan bagaimana ya… dan pada akhirnya Si Doubt ini bimbang karena ketakutannya sendiri
Pemuda ketiga adalah Lucky.. berbeda dengan kedua teman sebelumnya, Lucky tahu kenapa dia harus memancing, tanpa ragu-ragu diapun berangkat memancing berbekal apa yang Orang tuanya tinggalkan. Sesampai di sungai tanpa menunggu lama, si Lucky mendapatkan ikan yang dia cari, dan diapun senang dan Menerima hasil pancingan dan membawanya pulang kerumah.
Pemuda Keempat adalah Perfect, si Perfect ini adalah gambar pemuda idaman. Dia senantiasa berpandangan bahwa dia harus mendapatkan yang terbaik, karena menurutnya hal tersebut layak dia peroleh. Dengan rasa Pe de yang super Gedhe.. si Perfect inipun pergi ke sungai dan memancing. Di sungai, dia cukup beruntung karena kailnya seringkali menangkap ikan-ikan di sungai tersebut, tapi berhubung si perfect di terlalu pengen yang sempurna, tiap dia mendapat ikan dia hanya bisa mencela Ikannya jelek… terlalu kecil… terlalu besar… kemudian membuang ikan hasil pancingannya kesungai serta banyak sekali keluhannya. Hingga tanpa dia sadari waktupun berlalu dan dia masih pada memancing untuk mendapatkan ikan yang benar-benar dia inginkan.
Pemuda kelima adalah Smart, Si Smart ini, adalah Orang yang berhati-hati dengan waktunya, sudah lama dia menunggu memancing dengan kail tapi dia juga tak mendapatkan ikan seekorpun, akhirnya dia memancing dengan menggunakan jalanya, dan dia mendapatkan beberapa ekor ikan kecil dan anak-anak ikan, dimana bila di makan tidak bisa mengenyangkan perutnya, namun dengan sikap hati-hatinya dia tahu banyak yang harus dia kerjakan di rumah dia membawa ikan-ikan tersebut pulang, kemudian membuatkan kolam kecil di belakang rumah, memeliharanya, menjaganya serta mengembangbiakan ikan tersebut .. karena kesungguhannya kini si Smart tak lagi pusing tuk pergi memancing ke sungai karena dia udah mendapatkan ikan yang telah ia pelihara dan dia ternakkan.
Pemuda Keenam adalah Wise.. Si Wise ini tanpa ragu-ragu juga ikut memancing, sayangnya dia tidak mendapatkan apa-apa, namun dia tak patah arang, dengan hati lapang iapun pulang kerumah dan berfikir secara jernih, kemudian dia bertanya dalam hatinya kenapa aku harus mencari ikan, oh ternyata agar aku bisa makan dengan layak dan aku punya energi tuk menjalani kehidupan. Tapi tuk mempunyai energi untuk menjalani hidup tak harus memperoleh ikan, aku bisa belajar menanam sayur dan buah, karena aku mempunyai pekarangan yang luas. Aku juga bisa bekerja, dengan hasil kerja tersebut, aku bisa membeli ikan di pasar, membelinya kemudian mengembangbiakan di rumahnya. Dan aku bisa memancing kembali bila Allah memberi kesempatan di lain waktu.